Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Ironi di Sektor Pertanian: Negeri Agraris Pengimpor Pangan

Koran Tempo, 10 Maret 2018 Di bangku sekolah, kita selalu diajarkan bahwa kekayaan alam yang melimpah merupakan modal penting bagi Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara lain di pentas dunia. Sayang, potensi besar ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Statistik menunjukkan bahwa luas daratan Indonesia mencapai 1,9 juta kilometer persegi. Sebagian besar sangat cocok untuk lahan pertanian. Lahan pertanian yang luas lagi subur menjadikan produksi komoditas pertanian kita melimpah. Tidak mengherankan bila saat ini Indonesia menjadi negara produsen utama sejumlah komoditas pertanian di kancah global. Dalam soal beras, misalnya, meski belakangan ini kita harus mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton, produksi di dalam negeri sejatinya melimpah. Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperlihatkan bahwa pada 2016 Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara penghasil padi terbesardi dunia setelah Cina dan India dengan produksi mencapai 77 juta ton. Sayan

Defisit BPJS dan Konsumsi Rokok

Koran Tempo, 25 November 2017 Tahun ini, dana Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dilaporkan mengalami defisit. Nominalnya cukup besar, yakni mencapai Rp 9 triliunan. Menariknya, salah satu solusi yang diusulkan untuk menambal defisit tersebut adalah penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau yang diperkirakan bisa mencapai Rp 5 triliun. Menteri Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk membiasakan pola hidup sehat agar ongkos pengobatan yang harus dikeluarkan BPJS dapat ditekan. Penggunaan cukai rokok untuk menambal defisit BPJS sebetulnya sebuah ironi. Besarnya dana hasil cukai produk tembakau yang mencapai Rp 5 triliun tersebut menunjukkan tingginya tingkat konsumsi rokok di Tanah Air. Padahal kita tahu bahwa secara medis kebiasaan merokok merupakan salah satu penyebab utama sejumlah penyakit berat yang menyedot ongkos pengobatan yang tidak sedikit. Menteri Kesehatan sendiri pernah menyampaikan bahwa 30 persen dana BPJS ternyata terserap untuk pengobatan

Kepunahan Petani Kita dan Distribusi Lahan

Koran Tempo, 3 November 2017 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merilis hasil penelitiannya tentang fakta miris regenerasi petani di Provinsi Jawa Tengah. Rata-rata usia petani di tiga desa pertanian padi di provinsi ini mencapai 52 tahun. Namun generasi muda yang tertarik untuk melanjutkan usaha tani keluarganya hanya sekitar 3 persen (Antara, 20 September 2017). Tidak mengherankan jika LIPI menyatakan petani kita bakal punah. Faktanya, saat ini kultur bertani kian tergerus. Anak petani sebagian besar tak lagi bercita-cita menjadi petani. Menjadi petani adalah pilihan terakhir bagi generasi muda pedesaan untuk menyambung hidup. Seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) pernah berucap dalam sebuahworkshopbahwa anak muda di kawasan Puncak lebih bangga menjadi tukang ojek atau penjaga vila ketimbang menjadi petani sayuran. Salah satu penyebabnya adalah menjadi petani identik dengan kemiskinan danndeso. Sesuatu yang tentu saja sama sekali tidak menarik bagi genera

Tingkat Kemakmuran Indonesia Lompat 21 Peringkat

Koran Tempo, 5 Maret 2016 Kemakmuran ternyata bukan melulu soal seberapa banyak materi atau kekayaan yang dikumpulkan suatu negara. Kekayaan memang merupakan salah satu faktor penentu utama kemakmuran, tapi bukan segalanya. Dimensi kemakmuran lebih luas dari sekadar akumulasi kekayaan materi. Ia juga mencakup dimensi non-materi, seperti kegembiraan hidup dan prospek untuk membangun hidup yang lebih baik di masa mendatang. Legatum Institute, sebuah lembaga think-tank yang berkedudukan di London, mencoba membangun sebuah indikator yang diupayakan mampu mengukur sebaik mungkin kemakmuran suatu negara secara multi-dimensi. Indikator tersebut tidak hanya didasarkan pada pendapatan, tapi juga sejumlah dimensi kualitatif yang merepresentasikan kesejahteraan (well-being). Indikator yang dikembangkan tersebut dikenal sebagai Legatum Prosperity Index yang diluncurkan setiap tahun sejak 2009. Indeks tersebut merupakan indeks komposit yang mencakup 89 variabel, dari variabel klasik se

Mewujudkan Kesejahteraan Ibu dan Anak

Koran Tempo, 19 Desember 2015 Tak bisa dibantah, para ibu merupakan kunci keberlangsungan negeri ini. Pasalnya, dari merekalah generasi penerus dan para pemimpin negeri ini lahir dan dibesarkan. Tapi, apakah negeri ini sudah menjadi tempat yang ideal bagi para ibu untuk melahirkan dan membesarkan anaknya? Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa diperoleh dalam State of The World's Mothers 2015 yang diluncurkan oleh lembaga non-pemerintah (NGO) Save The Children dalam rangka memperingati Hari Ibu Internasional. State of The World's Mothers merupakan laporan tahunan yang mengevaluasi kinerja negara-negara di dunia: apakah mampu menjadi tempat yang ideal bagi para ibu untuk membesarkan anaknya. Alat evaluasi yang digunakan adalah Mothers' Indeks, sebuah indeks komposit yang dibangun dari lima indikator, yakni kesehatan ibu—yang diukur melalui peluang seorang wanita berumur 15 tahun pada akhirnya bakal meninggal karena kasus maternal (kehamilan dan persalinan), kes

Sesak Napas Asap Rokok

Koran Tempo, 30 Oktober 2015 Statistik konsumsi rokok dunia pada 2014 kembali meneguhkan posisi Indonesia sebagai salah satu negara konsumen rokok terbesar sejagat. Sepanjang tahun lalu, konsumsi rokok dunia mencapai 5,8 triliun batang, dan sebanyak 240 miliar batang (4,14 persen) di antaranya dikonsumsi oleh perokok Indonesia. Mengutip pemberitaan Koran Tempo, angka konsumsi rokok ini menempatkan Indonesia sebagai negara pengkonsumsi rokok terbesar keempat dunia setelah Cina (2,57 triliun batang), Rusia (321 miliar batang), dan Amerika Serikat (281 miliar batang). Statistik konsumsi rokok masyarakat Indonesia tersebut tampaknya sejalan dengan tingginya prevalensi merokok di Tanah Air. Hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) pada 2011 memperlihatkan bahwa jumlah pengguna tembakau, baik berupa rokok maupun penggunaan lainnya tanpa asap ( smokeless form ), mencapai 61 juta orang atau mencakup sekitar 36 persen dari total penduduk Indonesia. Tingginya konsumsi rokok masyarak

Kriuk Pedas Beras Gandum

Koran  Tempo, 8 Agustus 2015 Suatu ketika, seorang kawan melontarkan pertanyaan mengenai harga kerupuk kaleng dan sebiji telur ayam. Dari sana, saya baru tersadar: harga dua bongkah kerupuk kaleng ternyata lebih mahal daripada sebiji telur ayam. Sekadar merinci buat Anda yang tak percaya, harga sebongkah kerupuk kaleng saat ini Rp 1.000, sedangkan harga sebiji telur ayam sebesar Rp 1.500. Padahal, dari segi kandungan gizi, jangankan dua bongkah, sekarung kerupuk pun kandungan gizinya jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan gizi sebiji telur ayam. Yang menarik lagi, kerupuk mendapat tempat yang istimewa dalam pola konsumsi orang Indonesia ketimbang telur ayam. Bagi banyak orang Indonesia, bukan makan namanya bila tanpa kerupuk. Negeri ini memang surganya kerupuk. Ada banyak varian kerupuk. Apa pun bisa dijadikan kerupuk, dari kulit binatang, ceker ayam, hingga daun bayam. Indonesia juga surganya sambal. Nyaris setiap daerah memiliki kekhasan jenis sambal dengan cita rasa

Darurat Regenerasi Petani

Koran Tempo, 18 April 2015 Pemerintah telah menetapkan target untuk mewujudkan swasembada pangan dalam waktu tiga tahun. Sejumlah langkah teknis-yang difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi pangan nasional-pun telah disiapkan untuk merengkuh target tersebut. Salah satunya, pengalihan subsidi BBM ke sektor pertanian sebesar Rp 16 triliun untuk revitalisasi dan pembangunan jaringan irigasi baru. Secara faktual, dari sekitar 8,1 juta hektare lahan sawah di negeri ini, baru seluas 4,8 juta hektare yang berkategori sawah irigasi. Itu pun sebagian besar jaringan irigasi teknis yang ada dilaporkan dalam kondisi rusak. Jadi, tidak mengherankan bila optimalisasi lahan sawah masih jauh dari harapan. Hal itu tecermin dari indeks pertanaman padi sawah yang hanya sebesar 1,6. Artinya, masih banyak sawah di negeri ini hanya bisa ditanami padi sekali setahun karena dukungan irigasi yang kurang memadai. Karena itu, pengalihan Rp 16 triliun dana subsidi BBM untuk irigasi adalah lan

Kesenjangan Upah Pria-Wanita

Koran Jakarta, 21 Maret 2019 Peringatan Hari Perempuan In­ternasional, 8 Maret, menye­rukan dunia agar lebih seimbang dalam gender. Faktanya, meskipun pember­dayaan perempuan mengalami kemajuan, kesenjangan eko­nomi antara laki-laki dan pe­rempuan masih terjadi. Dalam kasus Indonesia, kesenjangan­nya bahkan cukup besar. Hingga kini, ekonomi nasional lebih di­gerakkan laki-laki (male-driven economy). Kontribusi perem­puan terhadap penciptaan pen­dapatan nasional jauh lebih ren­dah dari laki-laki dan di bawah potensi aktualnya. Indeks Pemberdayaan Gen­der yang dihitung Badan Pusat Statistik (BPS) telah meningkat signifikan dari 68,15 poin tahun 2010 menjadi 71,74 poin pada 2017. Indeks untuk mengukur kemajuan aspek multidimen­sional pemberdayaan perem­puan yang mencakup politik, sosial, dan ekonomi. Sayang­nya, terlepas dari peningkatan signifikan ini, wanita hanya me­nyumbang 36,62 persen dari to­tal pendapatan. Ini menegaskan dominasi laki-laki. Kontribusi kecil perempuan jug

Some issues around maize production data

www.thejakartapost.com, 26 March 2019 In the second presidential debate covered topics on energy, food, infrastructure, natural resources and the environment on Feb. 17, president Joko “Jokowi” Widodo made a mistake in quoting data of maize importation. The president said the import quantity of this commodity had dropped substantially from 3.5 million tons in 2014 to merely 180,000 tons in last year. In contrast, the official data from Statistics Indonesia (BPS) pointed out a more towering figure. During 2018, the quantity reached at 730,918 tons instead. This minor mistake suddenly became a headline in newspapers. However, it seems that the public did not realize (or maybe did not know) that the real problem was not the import data quoted by the president, but the production data used as a based for the government to justify triumphant in boosting the country maize production, especially over the last four years. When it comes to the accuracy of production data, maize has the

Addressing accuracy in chronic rice data problem

The Jakarta Post, 14 March 2019 The rice production figure has been a source of policy and political debates in Indonesia for many years now. The disassociation between the development of rice prices in the market and production data happens all the time. In fact, soaring prices that indicate a supply shortage still happens especially when the official figure records a substantial rice surplus.  Many parties have blamed the official production figures as the main cause of these inconsistencies. It is suspected of suffering from overestimation because of the use of subjective measurements when estimating it. Technically, rice production is obtained from the production of paddy multiplied by paddy to rice conversion rates, which varies from province to province. Meanwhile, the production figure of a paddy is calculated by multiplying two variables, namely the harvested area and productivity (yield per hectare). Since 1973, Statistics Indonesia (BPS) and the Agriculture Ministr